Saturday, July 28, 2012

[Fanfic] Nanny Chapter 1



Cast  :  Jessica Jung SooYeon
             Lee Donghae
             Lee Hyunno
             Lee Haru
             Krystal Jung Soojung
Genre         :  Family, Romance
Rating        :  PG-15
Length       :  Series

Seoul, South Korea
          Aku berjalan dengan langkah gontai. Rasanya sulit sekali menyeret kaki ini untuk berjalan. Berkali-kali aku menghembuskan nafas seakan-akan hidup putus asa. Putus asa?? Aku memang putus asa!
          “Ottokhae??” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Mataku tertuju pada bangku taman yang kosong. Aku baru sadar betapa lelah dan jauhnya aku berjalan.
          “Hah... apa yang harus kukatakan pada Soojung?? Dia pasti akan marah...” keluhku. Lalu aku mengeluarkan sebuah surat dari dalam saku jeansku. Aku membaca kembali surat dari orangtuaku itu.

“Sooyeon-ah, Soojung-ah... Kalian tahu bahwa ayah dan ibu begitu bosan di Korea. Beberapa hari lalu kami memutuskan untuk pergi keliling dunia. Kalian tidak perlu cemas dengan masalah uang dan sebagainya, kami sudah mempersiapkannya sendiri. Kami mencintai kalian~
PS : Sooyeon-ah, ibu dan ayah telah mengambil uang gajianmu untuk      bulan ini~ Ibu akan bayar uang hasil kerja kerasmu ini ketika kembali...”


          Selain surat itu, ibu dan ayah juga memasukkan total pinjaman uang mereka beserta bunga yang harus dibayar tiap bulannya. Awalnya aku tidak terlalu bermasalah, namun setelah aku kembali ketempat kerja 2 hari lalu, aku dimarahi habis-habisan oleh atasanku dan hal terburuk, aku dipecat! Mencari pekerjaan memang mudah, namun untuk mendapatkannya itu luar biasa susah. Aku tidak ingin menjadi penggangguran. Apa yang bisa dilakukan seorang mahasisiwi lulusan fakultas Seni?? Aku mau saja jadi artis atau idola, namun tak ada modal, ya tidak bisa~
          “Onnie?!” suara Soojung membuyarkan lamunanku. “Oh, Soojung-ah... sudah pulang sekolah??” tanyaku.
          Soojung menatapku heran. “Kupikir onnie disini sedang menungguku. Apa onnie sedang menunggu orang lain?? Namjachingu??”
          “A, ani. Hanya kebetulan jalan-jalan dekat sini saja”.
          “Surat apa itu??” tanya Soojung penasaran pada surat yang kupegang. Aku segera menyembunyikannya. “Hanya surat dari kantor...”
          Soojung melihat ekspresi wajahku dan tidak menanyakan apa-apa lagi. “Ayo pulang!” ajak Soojung. Aku tersenyum dan mengangguk. Aku tidak boleh membiarkan Soojung tahu masalah ini, pikirku. Aku tidak ingin dia merasa tertekan.

         
          “Soojung-ah, onnie pergi sebentar!” teriakku dari depan rumah. Soojung muncul dengan celemek hitam. “Onnie tidak makan malam denganku?” tanya Soojung.
          “Tentu saja aku makan malam denganmu. Aku hanya ada urusan sebentar dengan temanku. Kalau aku pulang telat, kau makan duluan saja, jangan menungguku. Jangan lupa menyiapkan peralatan sekolahmu besok, dan kerjakan pr-mu!!” ujarku panjang lebar.
          “Iya-iya, aku mengerti,” Soojung menyodorkan syalku. “Diluar sedang turun salju, jadi hati-hati.” Aku tersenyum mendengar nasehatnya.
          “Aku pergi dulu....”

          Aku memasuki kedai soju dipinggir jalan Myeongdong, tempat biasa aku dan temanku bertemu. Disana mereka –Taeyeon, Tiffany, Yuri, Sooyoung, dan Yoona- sudah menunggu
          “Kenapa kau telat sekali??” omel Taeyeon yang datang paling dulu.
          “Kalau tidak tidur, apa lagi?!” sahut Sooyoung. “Bu, tambah soju-nya satu lagi!!” teriak  Sooyoung.
          “Hei, kenapa kau diam saja? Membuat suasana jadi tegang saja!” ujar Tiffany.
          “Mungkin dia marah gara-gara kau kali??” tuduh Taeyeon pada Sooyoung. “Kenapa aku? Bukannya kau yang mengomelinya??” balas Sooyoung, tidak terima pada tuduhan Taeyeon.
          “Hah, onni ini. Sadari suasana hati orang dulu, jangan bertengkar.” Pinta Yoona, lalu menuangkan segelas soju kepadaku. Aku meminumnya sekali teguk.
          “Jangan buru-buru. Katakan pada kami apa yang terjadi...!” pinta Yuri. Aku menceritakan masalahku, dari awal hingga akhir, tanpa kehilangan sedikit bagianpun.
          “Pekerjaan ya?? Memang sulit. Tapi ini bukan yang pertama kalinya kan??” tanya Tiffany. Tentu saja, aku memang sudah terbiasa pada sikap orang tuaku yang mena-mena. Tapi itu masih dalam tahap wajar. Keliling dunia dengan uang pinjaman?? Itu bukan lagi hal yang wajar.
          “Bagaimana kalau kau ikut dalam kelompok Musicalku?” usul Taeyeon. “Sebenarnya kami juga sedang mencari seorang anggota. Lagipula kau memenuhi kriteria~”
          “Tidak, tidak bisa. Musicalmu itu cukup terkenal dan kalian sering manggung keluar kota. Aku tidak bisa meninggalkan Soojung sendiri dimasa-masa sulit seperti ini...” ujarku.
          “Sebenarnya aku mau saja merekomendasikanmu diperusahaan ayahku, tapi berhubung keuangan perusahaan sedang defisit, jadi tidak bisa. Mianhae, Sooyeon-ah...” Tiffany memberitahu.
          “ Sooyeon-ah, mianhae. ‘WINK’ sedang tidak buka lowongan kerja...” ucap Sooyoung.
          “Onnie, aku juga minta maaf. Kau tahu aku sendiri hanya model majalah remaja.. “ Yoona meminta maaf. Aku melirik Yuri. Ia hanya mengangkat bahu, tak tahu apa yang harus disarankan kalau dia sendiri hanya wanita rumahan.
          Suasana hening. Tiba-tiba Sooyoung menggebrak meja. “Sialan! Siapa  sih yang terus menelpon??” Sooyoung mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya dengan kasar dan berjalan keluar dengan telponnya.
          “Ada apa?” tanya Taeyeon pada Yoona yang sedang mengambil sesuatu dibawah. “Ah, tidak. Tadi kertas ini terjatuh dari saku mantel Sooyoung onnie...” Yoona menunjukkan potongan ketas kecil yang bertuliskan nomor ponsel.
          Sooyoung kembali dengan wajah masam. “Maaf, aku harus pulang sekarang. Editor majalah ‘WINK’ ini akan lembur....”. Kami semua mengangguk mengerti.
          “Onnie, ini tadi terjatuh saat onnie mengambil ponsel..” Yoona menyodorkan potongan kertas itu pada Sooyoung.
          “Nomor siapa itu??” tanya Yuri penasaran. Sooyoung yang ternyata tidak ingat, harus berusaha keras mengingat kembali. Ia tidak ingin kehilangan hal penting yang mungkin berhubungan dengan pekerjaannya.
          “Ah! Aku ingat!” Sooyoung mengambil potongan kertas itu dan memandanginya. “Tadi pagi, kepala editor memberiku ini. Seorang kenalannya minta untuk dicarikan pengasuh untuk anaknya. Jadi, kepala editor itu membagikannya kepada kami semua.” Jelas Sooyoung. “Bagaimana? Kamu mau, Sooyeon-ah?” tawar Sooyoung.
          Walaupun agak ragu, akhirnya aku mengambilnya juga. “Kau telpon saja nomornya, lalu kau akan diberitahu dimana rumahnya. Kudengar teman kepala editor itu orang kaya, mungkin gajinya besar!!” terang Sooyoung. “Ah, sudah waktunya. Bersenang-senanglah tanpa aku, kawan. Aku pergi dulu...” lalu Sooyoung pergi meninggalkan kami ber-5 yang akan segera bersenang-senang.
          Aku melirik jamku. 11.43. Aku pulang terlambat hari ini. Untung aku sudah menelpon Soojung, kalau tidak mungkin ia masih menungguku. Aku memegang kepalaku yang terasa berat akibat soju. Akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat ditaman.
          Aku mengeluarkan potongan kertas yang diberikan Sooyoung dalam sakuku. Aku masih sangat bimbang. Pengasuh?? Nanny?? Itu artinya aku menjadi pembantu bukan?? Pembantu anak-anak?? Ah, tidak, tidak! Aku tidak mau!!!
          Aku kembali melirik potongan ketas itu dan tanpa sadar, aku telah menekan tombol Call.
          Oh!!! Tidak!! Bagaimana ini?? Ottokhae? Ottokhae??
          “Yobeoseyo??” suara diseberang sana menyahut. Aku yang tidak tahu apa yang lebih baik dilakukan, terpaksa menjawab. “Yobeoseyo...”
          “Apakah anda ingin melamar pekerjaan sebagai Nanny??” tanya suara diseberang sana.
          “Ah, uhm, y-ya...” jawabku ragu.
          “Siapa nama anda?”
          “Jung..  Sooyeon...”
          “Baiklah, besok anda bisa datang kealamat yang akan saya kirim kenomor anda. Selamat malam~” telepon terputus.
          Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk keponselku.

                             “Jam 10.00 di Gagnam street no. 77”
                                                             Lee DongHae


O  Continue .....................

Writer : @Lazierpanda
COPYRIGHT © ANOTHER BLUE DREAMS



0 comments:

Post a Comment