Cast :
Jessica Jung SooYeon
Lee Donghae
Lee Hyunno
Lee Haru
Krystal Jung Soojung
Genre :
Family, Romance
Rating :
PG-15
Length :
Series
Seoul, South Korea
Aku berjalan dengan langkah gontai.
Rasanya sulit sekali menyeret kaki ini untuk berjalan. Berkali-kali aku
menghembuskan nafas seakan-akan hidup putus asa. Putus asa?? Aku memang putus
asa!
“Ottokhae??” aku menggaruk kepalaku
yang tidak gatal. Mataku tertuju pada bangku taman yang kosong. Aku baru sadar
betapa lelah dan jauhnya aku berjalan.
“Hah... apa yang harus kukatakan pada
Soojung?? Dia pasti akan marah...” keluhku. Lalu aku mengeluarkan sebuah surat
dari dalam saku jeansku. Aku membaca kembali surat dari orangtuaku itu.
“Sooyeon-ah, Soojung-ah... Kalian tahu
bahwa ayah dan ibu begitu bosan di Korea. Beberapa hari lalu kami memutuskan
untuk pergi keliling dunia. Kalian tidak perlu cemas dengan masalah uang dan
sebagainya, kami sudah mempersiapkannya sendiri. Kami mencintai kalian~
PS : Sooyeon-ah, ibu dan ayah telah
mengambil uang gajianmu untuk bulan
ini~ Ibu akan bayar uang hasil kerja kerasmu ini ketika kembali...”
Selain surat itu, ibu dan ayah juga
memasukkan total pinjaman uang mereka beserta bunga yang harus dibayar tiap
bulannya. Awalnya aku tidak terlalu bermasalah, namun setelah aku kembali
ketempat kerja 2 hari lalu, aku dimarahi habis-habisan oleh atasanku dan hal
terburuk, aku dipecat! Mencari pekerjaan memang mudah, namun untuk
mendapatkannya itu luar biasa susah. Aku tidak ingin menjadi penggangguran. Apa
yang bisa dilakukan seorang mahasisiwi lulusan fakultas Seni?? Aku mau saja
jadi artis atau idola, namun tak ada modal, ya tidak bisa~
“Onnie?!” suara Soojung membuyarkan
lamunanku. “Oh, Soojung-ah... sudah pulang sekolah??” tanyaku.
Soojung menatapku heran. “Kupikir
onnie disini sedang menungguku. Apa onnie sedang menunggu orang lain??
Namjachingu??”
“A, ani. Hanya kebetulan jalan-jalan
dekat sini saja”.
“Surat apa itu??” tanya Soojung
penasaran pada surat yang kupegang. Aku segera menyembunyikannya. “Hanya surat
dari kantor...”
Soojung melihat ekspresi wajahku dan
tidak menanyakan apa-apa lagi. “Ayo pulang!” ajak Soojung. Aku tersenyum dan
mengangguk. Aku tidak boleh membiarkan Soojung tahu masalah ini, pikirku. Aku
tidak ingin dia merasa tertekan.
“Soojung-ah, onnie pergi sebentar!”
teriakku dari depan rumah. Soojung muncul dengan celemek hitam. “Onnie tidak
makan malam denganku?” tanya Soojung.
“Tentu saja aku makan malam denganmu.
Aku hanya ada urusan sebentar dengan temanku. Kalau aku pulang telat, kau makan
duluan saja, jangan menungguku. Jangan lupa menyiapkan peralatan sekolahmu besok,
dan kerjakan pr-mu!!” ujarku panjang lebar.
“Iya-iya, aku mengerti,” Soojung
menyodorkan syalku. “Diluar sedang turun salju, jadi hati-hati.” Aku tersenyum
mendengar nasehatnya.
“Aku pergi dulu....”
Aku memasuki kedai soju dipinggir
jalan Myeongdong, tempat biasa aku dan temanku bertemu. Disana mereka –Taeyeon,
Tiffany, Yuri, Sooyoung, dan Yoona- sudah menunggu
“Kenapa kau telat sekali??” omel
Taeyeon yang datang paling dulu.
“Kalau tidak tidur, apa lagi?!” sahut
Sooyoung. “Bu, tambah soju-nya satu lagi!!” teriak Sooyoung.
“Hei, kenapa kau diam saja? Membuat
suasana jadi tegang saja!” ujar Tiffany.
“Mungkin dia marah gara-gara kau
kali??” tuduh Taeyeon pada Sooyoung. “Kenapa aku? Bukannya kau yang
mengomelinya??” balas Sooyoung, tidak terima pada tuduhan Taeyeon.
“Hah, onni ini. Sadari suasana hati
orang dulu, jangan bertengkar.” Pinta Yoona, lalu menuangkan segelas soju
kepadaku. Aku meminumnya sekali teguk.
“Jangan buru-buru. Katakan pada kami
apa yang terjadi...!” pinta Yuri. Aku menceritakan masalahku, dari awal hingga
akhir, tanpa kehilangan sedikit bagianpun.
“Pekerjaan ya?? Memang sulit. Tapi ini
bukan yang pertama kalinya kan??” tanya Tiffany. Tentu saja, aku memang sudah
terbiasa pada sikap orang tuaku yang mena-mena. Tapi itu masih dalam tahap
wajar. Keliling dunia dengan uang pinjaman?? Itu bukan lagi hal yang wajar.
“Bagaimana kalau kau ikut dalam
kelompok Musicalku?” usul Taeyeon. “Sebenarnya kami juga sedang mencari seorang
anggota. Lagipula kau memenuhi kriteria~”
“Tidak, tidak bisa. Musicalmu itu
cukup terkenal dan kalian sering manggung keluar kota. Aku tidak bisa
meninggalkan Soojung sendiri dimasa-masa sulit seperti ini...” ujarku.
“Sebenarnya aku mau saja
merekomendasikanmu diperusahaan ayahku, tapi berhubung keuangan perusahaan
sedang defisit, jadi tidak bisa. Mianhae, Sooyeon-ah...” Tiffany memberitahu.
“ Sooyeon-ah, mianhae. ‘WINK’ sedang
tidak buka lowongan kerja...” ucap Sooyoung.
“Onnie, aku juga minta maaf. Kau tahu
aku sendiri hanya model majalah remaja.. “ Yoona meminta maaf. Aku melirik
Yuri. Ia hanya mengangkat bahu, tak tahu apa yang harus disarankan kalau dia
sendiri hanya wanita rumahan.
Suasana hening. Tiba-tiba Sooyoung
menggebrak meja. “Sialan! Siapa sih yang
terus menelpon??” Sooyoung mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya dengan kasar
dan berjalan keluar dengan telponnya.
“Ada
apa?” tanya Taeyeon pada Yoona yang sedang mengambil sesuatu dibawah. “Ah,
tidak. Tadi kertas ini terjatuh dari saku mantel Sooyoung onnie...” Yoona
menunjukkan potongan ketas kecil yang bertuliskan nomor ponsel.
Sooyoung
kembali dengan wajah masam. “Maaf, aku harus pulang sekarang. Editor majalah
‘WINK’ ini akan lembur....”. Kami semua mengangguk mengerti.
“Onnie,
ini tadi terjatuh saat onnie mengambil ponsel..” Yoona menyodorkan potongan
kertas itu pada Sooyoung.
“Nomor
siapa itu??” tanya Yuri penasaran. Sooyoung yang ternyata tidak ingat, harus
berusaha keras mengingat kembali. Ia tidak ingin kehilangan hal penting yang
mungkin berhubungan dengan pekerjaannya.
“Ah!
Aku ingat!” Sooyoung mengambil potongan kertas itu dan memandanginya. “Tadi
pagi, kepala editor memberiku ini. Seorang kenalannya minta untuk dicarikan
pengasuh untuk anaknya. Jadi, kepala editor itu membagikannya kepada kami
semua.” Jelas Sooyoung. “Bagaimana? Kamu mau, Sooyeon-ah?” tawar Sooyoung.
Walaupun agak ragu, akhirnya aku
mengambilnya juga. “Kau telpon saja nomornya, lalu kau akan diberitahu dimana
rumahnya. Kudengar teman kepala editor itu orang kaya, mungkin gajinya besar!!”
terang Sooyoung. “Ah, sudah waktunya. Bersenang-senanglah tanpa aku, kawan. Aku
pergi dulu...” lalu Sooyoung pergi meninggalkan kami ber-5 yang akan segera
bersenang-senang.
Aku
melirik jamku. 11.43. Aku pulang terlambat hari ini. Untung aku sudah menelpon
Soojung, kalau tidak mungkin ia masih menungguku. Aku memegang kepalaku yang
terasa berat akibat soju. Akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat ditaman.
Aku
mengeluarkan potongan kertas yang diberikan Sooyoung dalam sakuku. Aku masih
sangat bimbang. Pengasuh?? Nanny?? Itu artinya aku menjadi pembantu bukan??
Pembantu anak-anak?? Ah, tidak, tidak! Aku tidak mau!!!
Aku
kembali melirik potongan ketas itu dan tanpa sadar, aku telah menekan tombol
Call.
Oh!!!
Tidak!! Bagaimana ini?? Ottokhae? Ottokhae??
“Yobeoseyo??”
suara diseberang sana menyahut. Aku yang tidak tahu apa yang lebih baik
dilakukan, terpaksa menjawab. “Yobeoseyo...”
“Apakah
anda ingin melamar pekerjaan sebagai Nanny??” tanya suara diseberang sana.
“Ah,
uhm, y-ya...” jawabku ragu.
“Siapa
nama anda?”
“Jung.. Sooyeon...”
“Baiklah,
besok anda bisa datang kealamat yang akan saya kirim kenomor anda. Selamat
malam~” telepon terputus.
Tak
lama kemudian, sebuah pesan masuk keponselku.
“Jam
10.00 di Gagnam street no. 77”
Lee DongHae
O
Continue .....................
Writer : @Lazierpanda
COPYRIGHT © ANOTHER BLUE DREAMS


0 comments:
Post a Comment